partitur patah hati
Partitur patah hati
Iya, saat ini saya masih patah hatinya, tapi saya juga baik-baik saja dan masih hidup tentu saja. Saya tak ingin diobati, tidak kali ini. Saya ingin menjadi tabib bagi diri saya sendiri, mengobati dan menunggui luka ini kering, mengelupas, dan berganti kulit yang baru, karena saya yang paling tahu diri saya sendiri.
Hari ini terbangun dengan rasa sakit ganjil. Seakan baru kemarin saya bersama dengannya. Kemarin dia masih mencinta saya. Rasa sakit ini makin menjalar ketika saya teringat tatapan lekat matanya, pelukan-pelukan itu, dan setiap detail raut wajahnya. Hari ini, dia tak lagi mencinta saya, bahkan telah melupakan saya. Saya selalu berdoa dan berkata kepada dirinya “semoga kamu selalu bahagia” tapi ternyata saya ingin dia bahagia bersama saya (dari sinilah sumber rasa sakit ini berasal). Tapi, bagaimanapun juga, saya tetap bangkit. Masih, Hari ini indah adanya.
Seorang teman datang pada saya hari ini dengan linangan air mata. Lihat! Saya tak sendirian bukan? teman saya pun tengah tersakiti oleh seorang yang dia kasihi. Pun, teman saya masih ingin memaafkan. Saya pun menimpali (karena saya tahu persis yang dia rasakan) “jikalau kata hatimu masih berkata demikian, maka ikutilah, jangan ingkari.” Saya dan teman saya memang seorang pengikut kata hati, walaupun tak ayal terkadang hal itu membuat kami terlihat bodoh. Tapi saya adalah seorang yang percaya bahwa kata hati tak pernah salah.
Seharian itu saya menghabiskan waktu bersama teman saya itu; dari sepagi sebelum kami bekerja, tengah bekerja, dan sehabis bekerja. Esoknya pun kami jalan-jalan berdua. Saya hampir melihatnya menangis sepanjang waktu dan kemudian tersenyum yang dipaksakan. Ini apa? sebuah Tanya retoris . Sekali lagi saya tahu betul yang dia rasakan walaupun saya tak lagi menangis setiap hari. Saya benar-benar merasa dekat dengannya. Saya melihat diri saya didirinya. Lalu, seakan ada dorongan untuk merengkuhnya dan memeluknya, lalu mengatakan “semua akan baik-baik saja” yang tak sekadar basa-basi. Dibalik yang saya alami, mungkin sayapun dipersiapkan untuk hari ini; saya hadir untuk memberi kekuatan bagi yang lain karena sungguh semua akan baik saja. Selalu seperti itu!
Fall in love? Saya merasa ini adalah frase yang aneh; jatuh cinta. Bukankah jatuh cinta adalah perasaan yang memberikan sensasi bahagia seolah terbang ke langit ke tujuh. Akan tetapi frase itu memiliki kata “jatuh” yang berlawanan dengan perasaan cinta yang seperti terbang ke awan-awan seolah telah tertulis peringatan nyata “jatuh.” Dan saya memang tak mengindahkan peringatan itu, seperti kebanyakan orang, dan saya tentu saja juga telah jatuh.
Namun, Saya masih percaya sepenuhnya pada cinta itu, dan sang Cintalah pula yang menyelamatkan saya. Alam semesta berjalan dengan kekuatan hukum universal yang nyata dan satu; apa yang kita berikan ke ranah alam ini, akan kembali lebih banyak lagi kepada kita. Cinta itu pun telah kembali kepada saya dengan caranya sendiri. Justru ketika saya merasa paling merana dan kesepian, saya menyadari betapa banyak cinta yang saya terima dari teman-teman saya yang bijak. Tentu saja, saya pun menyadari teman-teman saya yang bijak dan tulus mencintai saya telah dipersiapkan untuk hari ini, ketika hati saya patah dan luka, untuk saya. Saya memang ingin mengobati luka ini sendiri, namun saya tak harus mencari obat itu sendiri. Saya memiliki mereka, teman yang bijak, untuk bertanya di manakah toko obat itu (walaupun jawaban itu ternyata tak jauh-jauh juga ; dalam diri saya).
“How are You?” Satu Tanya yang sering saya dapatkan dari mereka. “mostly fine” saya memang baik-baik saja, hampir selalu. Saya sadar dan tahu bahwa semua ini ada hikmahnya dan bahwa saya tengah dipersiapkan untuk hal yang lebih baik dan besar daripada sekarang. Tak dipungkiri, ada hari, jam, dan detik ketika saya limbung dan jatuh; hari ketika saya ingin mati lagi (sebuah harapan sembrono), hari ketika saya sedih meliris-liris, dan hari seolah hari, jam, dan detik seperti sebuah beban berat yang membuat dada saya sesak. Ini mungkin yang disebut “sedih”. Sebuah konsekuensi wajar dari patah hati. Dan memang saya tak bisa langsung tiba-tiba tak sedih. Saya juga masih sering menangis karena teringat pernah makan cah kankung bersamanya, ataupun lewat tempat kami biasa menghabiskan waktu bersama, atau film yang pernah kami tonton berdua, atau bahkan hanya seseorang menyebut namanya. Betapa kenangan adalah kawan dekat airmata. Tapi tak apa, saya hadapi kesedihan ini, saya juga tak berusaha menahan tangisan ini. konon, tangisan mampu membersihkan jiwa.
Saya juga mengenal teman lain yang pernah patah hati. Saya paham betul tentang setiap detail kata, ujaran, dan sedihnya. Aneh, saat saya bertemu dia saya belum patah hati (lagi) dan saya pun selalu menyakinkannya “semua akan baik-baik saja”. Saya selalu bilang “introspeksi dan fokuslah pada dirimu sendiri, jikalau kita mau memperbaiki hal-hal yang ada di dalam diri kita, be a better person, hal-hal di luar kita akan menjadi lebih baik dengan sendirinya.” Dan dia memang telah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya, walaupun dia masih saja tak hentinya bertanya “ko masih sedih ya?” “when this gonna be over?” saya benci melihatnya lemah. Tapi, lihatlah saya sekarang. Keadaan telah berbalik. Teman saya pun sekarang baik-baik saja dan bertemu cinta yang lain yang semoga lebih baik untuknya. Dia sekarang yang selalu mengingatkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Setiap detail kata, ujaran, dan rasa sedih saya dipahami olehnya. Setiap timbal balik yang dia katakan kepada saya benar-benar menentramkan hati saya, lain kali dia benar-benar bisa membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Saya benar-benar mencintainya (sebagai seorang sahabat) dan betapa cinta telah menyelamatkan saya.
Rasa sakit ini memang tak kunjung hilang. Lalu apa yang sebenarnya saya inginkan? Batin saya senantiasa bergelut dan belum tahu jalan manakah yang harus saya pilih. Saya selalu berdoa “semoga dia bahagia, truly happy.” Yah, saya memang inginkan itu walaupun saat ini ternyata menyakitkan melihatnya bahagia bersama orang lain. Haruskah saya berdoa “Tuhan, ijinkanlah dia bahagia bersama saya?” eitss.. tapi benarkah saya menginginkan itu? Benarkah saya masih menginginkan bersama dengan orang yang telah meliris-liris hati saya separah ini? benarkah saya ingin bersama dengan seseorang yang pernah membuat saya merasa ingin mati? Tapi bukankah dia pun juga seorang terluka yang mungkin tak sengaja menyakiti saya? saya tahu betul siapa dia dan betapa dia terluka oleh masa lalu. Dan setiap kali bersamanya, saya selalu merasa ingin menyelamatkannya. Saya tak bisa. Saya tahu. hanya dia yang mampu menyelamatkan dan menyembuhkan dirinya sendiri. tetapi anehnya melihatnya terluka, saya makin terluka. Herman hesse dalam novelnya Siddharta benar-benar bisa menjelaskan apa yang saya rasakan;
“namun luka itu masih membara menyenangkan dan menyakitkan, siddharta memikirkan anaknya, memelihara cinta dan kelembutan di dalam hatinya, membiarkan luka itu menelan dirinya, turut dalam semua kebodohan cinta. Ini bukanlah sebuah titik api yang akan mati dengan sendirinya”
Yah, titik api ini tak akan mati dengan sendirinya. Saya tahu saya benar-benar ingin melihat dia berubah dan sembuh pula dari derita masa lalunya. Tapi saya mulai sekarang harus merelakannya tak ada satupun yang bisa saya lakukan untuknya lagi. Selama ini saya selalu percaya dan masih akan percaya dia adalah orang baik dan pasti ada masa dia akan memilih 2 jalan itu ; untuk terus merasa nyaman dalam luka ataupun menyembuhkannya (saya berharap dia memilih jalan yang kedua). Ini adalah jalan takdir yang masing-masing harus kami lalui, dan saat ini sayangnya kami tak lagi berada di jalan yang sama dan tak akan pernah bisa bersama kecuali dia telah memilih untuk sembuh. Tataran energi saya saat ini berbeda dengannya; ini pula salah satu sebab saya tak pernah bisa bahagia bersamanya. Saya tahu saya tengah menderita karena cinta, tapi bukankah lebih menderita orang-orang yang lari dari cinta dan kebenaran?
Yah, titik api ini tak akan mati dengan sendirinya. Saya pun memang tengah berusaha mematikannya. Saya tengah menghitung mundur matinya titik api itu. Mungkin waktu juga merupakan obat. Saya akan memberi waktu bagi diri saya untuk bersedih, 99 hari dan hitungan mundur. Dan jikalau hari itu saya masih tak bisa melepaskannya dan harapan-harapan tentangnya, sayalah yang mempunyai masalah karena saya sendiri yang tak mau bahagia. Well, I deserve happiness!
Counting down….
18 Desember 07
(Ini tulisan lama saya, ketika saya dulu patah hati, lagi-lagi, oleh orang yang sama. Iya, saat ini saya lega saya berpisah dengannya, iya, masa lalu yang terasa begitu berat, saat ini telah berganti dengan rasa syukur, iya, Titik api itu telah mati. Iya, I deserve happiness.
Apapun yang terjadi, Tuhan selalu dan selalu sayang terhadap umatnya. Dan apapun yang terjadi, seberat apapun dan sepahit apapun, itulah yang terbaik bagi kita. Pada akhirnya kita selalu bersyukur. J )
April 17, 2008 at 10:39 am
saat-saat sedih itu sudah bisa saya tertawakan sekarang. hmmm.. makasih ya ; kum, ejib, vee, n mie..
luv u guys…
April 17, 2008 at 11:00 am
eh eh.. ada nama ejib! ahaha
April 17, 2008 at 11:03 am
ya iyalah.. ejib kan emg one of my bestie…
jgn jealous dunk nenk…
May 5, 2009 at 12:22 am
Iseng saya mengetik kata ‘lirishati’ sekadar mengikuti turutan keinginan diri. Kalo dibilang narsis, yah,,,,ga narsis ga eksis kan. Ya, nama saya lirishati, Putu Lirishati Soethama, tepatnya.
Membuka dan menbaca partitur patah hati ini, saya meleleh… Persis. Saya juga mengalami hal yang sama. Tepat. Setelah setahun berlalu, panasnya rasa itu masih terasa.
Namun tidak setiap detik rasa itu menggerayangi saya. Karena liris berarti irama. Lirishati. Irama hati. Dan hati saya akan terus menyenandungkan irama-irama hati. Saya sedih,pun saya bahagia.
Saya bungkam, pun saya bersenandung. Senandung irama dalam partitur hati saya.
For yoursentence always right. I, you, wealldeserve hapiness.
Then, senandungkanlah irama riang dalam partitur hatimu ^^