rindu
Saya merindukan romantisme. Saya menginginkan fluktuasi. Saya mencari, saya ingin ditemukan.
Akhir-akhir ini, saya lebih sering duduk di bangku penonton. Saya hanya bisa berimaji dan berbayang tentang perasaan lelakon dalam drama yang saya lihat; cinta dan jatuh. Perasaan itu, seolah memang rasa itu jauh sekali dari saya, kurindui sangat. Tentang dia dan senyuman yang merekah, tentang sedang apakah dia, tentang debar jiwa, tentang benci menunggu, tentang berjalan berdua disenja dan berharap waktu membeku, tentang masakan spesial untuknya, tentang baju ini akan membuat saya cantik di depannya, tentang jangan datang dulu karena saya belum mandi dan dandan- tak ingin kelihatan jelek di depanmu, tentang saya lelah tapi saya tahu kamu butuh saya maka saya tetap datang, dan tentang doa saya di malam-malam agar kita selalu bersama dan bahagia, tak apa untuk jatuh dan bangun berdua namun toh akhirnya kita bahagia.
Lalu, dimana kamu?
Sungguh nelangsa saya, karena saya tak memiliki perasaan ini untuk siapapun saat ini, bahkan, meskipun perasaan ini tak berbalas, akan masih lebih baik karena saya tengah mencinta seseorang. Imaji tentang kamu pun saya malas melukisnya. Apakah kamu tinggi dan kaukasian? Ataukah korea yang sedang saja dan chubby? Ataukah kamu yang tinggal di seberang apartemenku? Atau seseorang dari lantai 10?
Ada apa dengan saya?
Ada apa dengan saya? Sejak kapan saya berhenti bermimpi? Lelahkah saya? Jatuh kemarin memang bertubi, dan memar itu belum juga hilang. Namun saya sama sekali tak mendendam pada cinta, saya masih mencari, hanya saja tak tahu kemana?
Sosokmu masih gelap, saya hanya melihat saya dan kamu berpayungan di tengah hujan deras di sebuah kota 4 musim. Cuaca hari itu begitu dingin namun hati kita begitu hangat…………